"Timang-timang anakku sayang, kalau sudah besar jadi penulis" Pernahkah Anda mendengar senandung yang diperdengarkan seorang orang tua kepada anaknya demikian? Sayangnya pasti kita jarang sekali mendengarnya, malahan boleh dibilang belum pernah. Kalau ada seorang anak yang bercita-cita menjadi penulis mungkin kupingnya harus siap-siap menjadi panas mendengar orang tuanya menggoblok-goblokkan dirinya. Stigma di atas terjadi karena masyarakat umum melihat kenyataan yang terjadi. Walaupun sekarang sudah ada penulis yang sukses dan berlimpah materi akibat buku yang ditulisnya laris manis seperti pisang goreng, namun jauh lebih banyak penulis yang masih belum sukses karena bukunya hanya laku seuprit. Mungkin di Indonesia ini, kalau laku seuprit pun sudah dibilang syukur. Kalau digambarkan proporsinya mungkin seperti kurva normal, yang bentuknya seperti gunung. Yang sukses hanya sedikit di puncak kurva, sisanya bergelimpangan di lereng gunung. Nah, sekarang kita akan melihat penghasilan penulis yang kelas medioker ini, dimana mungkin kita adalah salah satunya. Kita akan melihat bagaimana penulis yang bukan best seller bisa hidup berkecukupan. Biasanya penghasilan seorang penulis diperoleh dari royalti. Ada juga yang menjual naskahnya dengan sistem beli putus. Tetapi lazimnya penerbit menggunakan sistem royalti, dimana pendapatan penulis didapatkan dari persentase nilai buku yang terjual. Biasanya royalti ini dibayarkan setiap periode tertentu, tergantung kesepakatan antara penerbit dan penulis. Misalnya ada seorang penulis yang telah mendapatkan royalti dari buku pertama yang ditulisnya. Dalam waktu setahun pertama setelah bukunya terbit ia mendapatkan royalti Rp 4 juta. Cukup lumayan untuk bukunya yang tidak laris. Nah pertanyaannya adalah apakah ia akan mendapatkan royalti yang sama besarnya seperti tahun pertama? Jawabannya belum tentu. Bagaimana dengan royalti untuk tahun ke tiga? Yang biasanya tidak diperhitungkan penulis adalah bahwa setiap buku memiliki siklus hidup. Setelah periode tertentu penjualan buku akan cenderung menurun. Buku-buku berkualitas dan best seller biasanya juga menurun tetapi masih tetap bertahan cukup lumayan karena akan terus dicari orang. Tetapi buku-buku kelas medioker akan semakin kehilangan pasar karena dilibas oleh buku-buku baru, sampai akhirnya hilang di pasaran. Karena itu belum tentu penjualan bukunya akan bisa sebagus tahun pertama. Akibatnya royalti yang dibayarkan kepada penulis akan semakin berkurang dan tentu saja mengancam tungku dapurnya. Sekarang kita akan coba mensimulasikan penulis yang hanya menghasilkan satu buku: (Simulasi ini hanya sebagai contoh saja. Di dalam contoh ini digambarkan royalti masih bisa diterima sampai tahun ke lima. Kenyataannya buku bertahan di pasar kadang hanya dalam 1-2 tahun saja) | | Tahun 1 | Tahun 2 | Tahun 3 | Tahun 4 | Tahun 5 | | Buku 1 | Rp 4.000.000 | Rp 2.000.000 | Rp 1.000.000 | Rp 500.000 | Rp 250.000 | Perhatikan kalau penulis bukan buku laris akan mendapatkan nilai royalti yang selalu lebih kecil setiap tahunnya. Sekarang kita akan mensimulasikan kalau penulis itu menghasilkan buku setiap dua tahun. | | Tahun 1 | Tahun 2 | Tahun 3 | Tahun 4 | Tahun 5 | | Buku 1 | Rp 4.000.000 | Rp 2.000.000 | Rp 1.000.000 | Rp 500.000 | Rp 250.000 | | Buku 2 | | | Rp 4.000.000 | Rp 2.000.000 | Rp 1.000.000 | | Total royalti | Rp 4.000.000 | Rp 2.000.000 | Rp 5.000.000 | Rp 2.500.000 | Rp 1.250.000 | Sekarang kita akan simulasikan kalau penulis itu sangat rajin menulis, sehingga menghasilkan buku setiap tahun, yang ternyata juga tidak best seller (nasib, nasib), hanya laku seadanya seperti buku lainnya. | | Tahun 1 | Tahun 2 | Tahun 3 | Tahun 4 | Tahun 5 | | Buku 1 | Rp 4.000.000 | Rp 2.000.000 | Rp 1.000.000 | Rp 500.000 | Rp 250.000 | | Buku 2 | | Rp 4.000.000 | Rp 2.000.000 | Rp 1.000.000 | Rp 500.000 | | Buku 3 | | | Rp 4.000.000 | Rp 2.000.000 | Rp 1.000.000 | | Buku 4 | | | | Rp 4.000.000 | Rp 2.000.000 | | Buku 5 | | | | | Rp 4.000.000 | | Total royalti | Rp 4.000.000 | Rp 6.000.000 | Rp 7.000.000 | Rp 7.500.000 | Rp 7.750.000 | Perhatikan bahwa setiap tahun ia akan mendapatkan penghasilan yang minimal sama dengan tahun pertama, bahkan terus meningkat. Dari simulasi ini, kita dapat menyimpulkan bahwa menulis pun bisa dijadikan karier yang cukup baik, bahkan saat kita hanya menghasilkan buku dengan penjualan medioker. Caranya adalah dengan produktif menulis buku. Jika Anda benar-benar ingin menjadi seorang penulis yang ingin benar-benar hidup dari menulis, caranya cuma satu yaitu Anda harus menjaga supaya jumlah buku yang terjual setidaknya konsisten setiap tahun pada level tertentu. Anda mungkin tidak akan punya buku best seller yang meledak. Tetapi dengan produktif menulis buku setiap tahun, walaupun buku Anda tidak best seller, tungku dapur Anda tetap menyala. Fenomena ini saya namakan sepur* uang penulis. Anda mungkin memang tidak akan mempunyai buku best seller yang membuat Anda naik roket yang membuat Anda melesat kaya raya. Tetapi, Anda bisa menaiki sepur uang yang bergerak konsisten dan tetap memiliki percepatan. Pendapatan yang konsisten ini sangat penting. Apalagi kalau Anda sudah berumah tangga. Anda tentu akan dapat menulis dengan tenang kalau mengetahui bahwa Anda memiliki sepur uang yang walau lambat dapat diandalkan. Caranya: PRODUKTIF Pertanyaannya sekarang adalah, gimana caranya menjadi produktif sehingga dapat menghasilkan buku secara kontinyu. Lha, satu buku saja nggak kelar-kelar dan belum tentu diterbitkan? Eits, sabar dulu. Hal ini akan dibahas di dalam artikel lain. *sepur=kereta api(bhs jawa) oleh Didik Wijaya copyright © Penerbit Escaeva http://www.escaeva.com |