|
Ditulis Oleh Indarpati
|
|
Senin, 21 Mei 2007 |
|
Membaca cerpen di majalah Ummi bulan ini yang berjudul Ibu Mau Menulis, senyum getir mau tak mau harus aku kulum. Berprasangka, cerpen tersebut adalah pengalaman pribadi penulisnya. Prasangka kedua, penulisnya adalah salah seorang peserta dalam pelatihan kepenulisan yang dilaksanakan majalah Ummi beberapa bulan sebelumnya. Terlepas bagaimana kualitas cerpen besutan Nur Rochmaningrum ini, ada semacam perenungan yang aku dapatkan. Membaca rangkaian paragaf demi paragrafnya, aku seolah tengah mengunyah kesah sebagian besar perempuan (baca: ibu rumah tangga) yang bercita-cita mulia menjadi penulis. Ada beberapa teman perempuan di komunitas penulisan yang menggenggam “bara” sama. Aku sendiri, sebagai seorang istri juga ibu, merasakan hal yang tiada beda. Menjelujur tentang ibu yang belajar menjadi penulis tersebut, bilah pertama yang aku dapatkan adalah sebuah impian manis, bahwa menulis dapat dijadikan profesi yang mendatangkan uang seperti halnya kerja kantoran. Salahkah anggapan yang demikian? Tentu tidak. Namun syaratnya pun tak berbilang jari. Harus ada karya yang benar-benar fenomental, harus ada karya yang tak lekang dihasilkan, dan sebagainya-sebagainya yang pada akhirnya menyeret ke syarat-syarat berikutnya. Syarat berikutnya yang juga merupakan bilah kedua adalah, anggapan sebagian penulis yang baru belajar bahwa menulis adalah soal menggoreskan bolpen atau pensil di atas kertas, atau mengetik di computer saja. Ada kepala yang isinya menjadi amunisi mereka. Namun pertanyaan selanjutnya, sudah cukupkah persediaan gizi di kepala tersebut? Menjadi seorang penulis, bagiku, adalah sebuah profesi yang tak mudah. Meski sedikit dia mensyaratkan pengetahuan di berbagai bidang. Seorang penulis, tak mungkin kan menuliskan soal beras mahal misal, jika tanpa referensi tentang (setidaknya) musim tanam, kebijaksaan pemerintah, juga social budaya (hubungannya dengan pola makan masyarakat). Meski dia menuliskannya dalam bentuk fiksi (yang katanya dibebaskan meliarkan imajinasi ) dan dengan angle serta tema yang sederhana sekali, niscaya takkan terasa tanpa referensi-referensi di dalamnya. Pencarian referensi ini kemudian menggiringku ke bilah ketiga. Seperti yang kita tahu, setidaknya ada dua cara utama mengumpulkan referensi. Desk research dan field research. Pencarian referensi yang pertama relative ‘mudah’ dilakukan. Kalau tidak dari media hard copy semisal koran, majalah, atau buku, ya bisa diunduh dari dunia maya yang luasnya tak terkira. Namun, kadang, ada beberapa hal yang mensyaratkan field research. Misal, tentang seluk-beluk profesi seseorang. Jika yang ingin digali itu sumbernya gampang ditemui (seperti tukang sol sepatu yang menjadi inspirasi artikelku yang dimuat di Annida edisi Mei 2006) tidaklah menjadi masalah. Namun bagaimana jika field research yang hendak dilakukan membawa konsekuensi meninggalkan keluarga untuk beberapa jenak? Bilah keempat, masih berhubungan dengan kesulitan di atas, tak ada cara lain kecuali jiwa besar anggota keluarga lainnya. Dikisahkan di cerpen itu, kedua anaknya masih kecil. Yang agak besar mungkin dapat ditinggal. Namun bagaimana dengan anak dua tahunnya yang tengah senang-senangnya gelatakan? Bagaimana juga dengan pasangan yang mungkin merasa diduakan? Pada dua kasus temanku, suami mereka ternyata bukan tipe suami yang seiring sejalan dalam hal ini. Berhadapan dengan buku saja, ketertarikan mereka sudah jauh berbeda. Apalagi ketika dengan bersahabat dengan buku tersebut sang istri terebut perhatiannya ke saudara kandungnya: menulis. Jangankan pada mereka yang suaminya tak begitu respek dengan dunia baca tulis, suamiku saja yang paham mimpiku kadang harus menahan emosi merasa diduakan. Malam, waktunya berkasihan justru kuhabiskan asyik masyuk di depan computer. Maka mencari win-win solution adalah sebuah keharusan agar keharmonisan tetap berjalan. Masih teringat pula olehku, rasa terimakasih mendalam yang diungkapkan mbak Asma Nadia (di milist kalau tidak salah) ketika deadline tulisannya mengakibatkan harus menjaga jarak sementara dengan kedua buah hatinya. Penulis yang menjadi rujukan banyak penulis pemula (termasuk aku juga) itu berterimakasih sekali atas kerjasama sang suami dan pengertian anak-anaknya. Duh, seandainya semua suami bisa sebijaksana itu… Bilah kelima, mungkin yang paling utama, adalah hambatan dalam diri si “ibu mau menulis” tadi. Dengan jadwal kerumahtanggan yang begitu ketat, apalagi tanpa adanya pembantu (seperti yang terjadi padaku juga), benar-benar diperlukan tenaga ekstra. Bahkan kalau perlu berdarah-darah air mata jika ingin mewujudkannya. Belum lagi soal teknis penulisan yang belum sepenuhnya dikuasai Bilah-bilah di atas, hanya gambaran besar dari tantangan yang harus dan akan selalu dilompati para “ibu mau menulis”. Sayangnya, tak banyak dari mereka yang benar-benar menyadarinya. Lalu ketika kesiapan itu mengendur, surutlah langkah ke belakang. Menyandarkan sementara impian untuk dijelujur lagi entah kapan, atau tetap mengikuti pelatihan tanpa benar-benar menghasilkan. Berkutat teori namun mentok, menyerah saat melihat genangan pipis si kecil, atau geledek mengancam menguyupi jemuran. Apapun itu, apapun profesi yang hendak diraih seorang ibu, istri, di samping tugas utamanya sebagai ratu rumah tangga, pastinya membutuhkan pengorbanan. Kerjasama dengan suami sebagai pihak terdekat pastilah sangat diperlukan. Namun, tak ada yang lebih penting selain menjaga bara di dada. Jika dia tetap meradangkan emosi menulisnya, semua hal menjadi mungkin saja. Everything is possible, isn’t it? Malaka sari, 12 maret ’07 01.38 Indarpati Asa seorang ibu biasa ketika jiwa dua buah hatinya tengah melanglang entah kemana http://lembarkertas.multiply.com |
|
 |
Buku Rekomendasi
Surat Cinta Saiful Malook

Rp27 000,00
Rp21 600,00
Hemat: 20.00%
Beli
|
Testimonial:echie Rating:  Novel Surat Cinta Saiful Malook bener2 bagus banget, waktu membacanya saya membayangkan setiap kata dan kejadian yang tertuang disana.semuanya terasa dekat dan nyata buatku. dan waktu saya tau ternyata itu adalah pengalaman pribadi mba Risma, itu lebih menguatkan saya betapa kekuatan cinta itu ada. sang tokoh begitu yakin kelak akan berjumpa dengan
kekasihnya saiful malook, yang bahkan belum berjumpa dan berada sangat jauh. kedengarannya seperti khayalan yang takkan mungkin menjadi kenyataan. its miracle...love its miracle and i believe it.. jika kita berusaha dan berdoa tak ada yang tak mungkin terjadi.sewaktu membacanya selalu saja ku terhanyut dibuai dengan keindahan dan kesahajaan, semuanya
terasa hidup. saya salut dan bangga dengan mba, mba sosok wanita yang kuat,cerdas dan tak mudah putus asa. itu pertama kalinya saya membaca karya mba,dan saya ingin diberitahu apabila mba mengeluarkan karya
lagi.
More...
|
|