Selling The Drama
Ditulis Oleh Didik Wijaya   
Rabu, 09 Agustus 2006

 

Penerbit Escaeva banyak sekali mendapatkan kiriman naskah fiksi bergenre fantasi. Gaya penceritaan, tokoh sampai settingnya pun, walau berbeda nama, namun bisa dilihat kalau terinspirasi oleh The Lord of The Rings, The Chronicles of Narnia, Harry Potter, Eragon, sampai terinspirasi oleh game semacam Final Fantasy. Boleh-boleh saja bila kita terilhami karya-karya yang sudah terkenal.

Bila dibaca, naskah yang masuk tersebut memiliki kelebihan, yaitu detail karakter dan setting-nya yang cukup tajam, mulai dari penggunaan nama yang terdengar asing di telinga, nama ras, ciri-ciri fisik, nama senjata, nama kota dll menunjukkan kalau penulisnya cukup banyak membaca karya bergenre sejenis dan melakukan riset. Namun ada satu hal yang tidak dimiliki oleh naskah-naskah yang masuk tersebut, sehingga menyebabkan naskah tersebut tidak bisa diterbitkan, yaitu "the script is not selling the drama".

"Selling The Drama", sama seperti judul lagu yang dipopulerkan kelompok musik Live, adalah elemen penting dalam penulisan fiksi. Bayangkan The Lords of The Rings tanpa konflik batin Frodo, persahabatan antara Frodo-Sam atau kepribadian ganda Gollum, karya besar itu dijamin hambar. Naskah fiksi fantasi yang hanya menggambarkan pahlawan tanpa cacat, berkelana dari satu kota ke kota lain untuk menegakkan keadilan, melawan monster ini dan itu, yang wajahnya begini dan begitu hanya akan menarik di awal kita membacanya. Setelah itu, kebosanan yang akan menjadi milik naskah seperti ini.

Yang akan menarik pembaca tidak hanya karakter yang indah, atau detail, setting yang wah. Semua itu tidak ada artinya bila tidak ada drama yang kuat. Selama kita bisa membuat drama yang kuat, kita bisa memberi baju apapun untuknya. Ambil contoh sebuah cerita sederhana seperti perjalanan hidup seseorang yang sukses, kemudian terhempas dan menderita, kemudian bersusah-payah membersihkan namanya dan menggapai kembali kesuksesan setapak demi setapak. Di dalam baju Romawi, cerita ini menjadi Gladiator. Sedangkan di dalam baju binatang menjadi The Lion King. Atau di masa sekarang, cerita ini menjelma menjadi The Fugitive atau Enemy of The State. Di dalam setting yang lebih maju lagi, cerita seperti ini menjadi sci-fi seperti The Minority Report.

Singkatnya, "Selling The Drama" tidak hanya harus dimiliki oleh naskah fiksi fantasi saja, namun semua naskah fiksi harus memilikinya.


oleh Didik Wijaya
Copyright Penerbit Escaeva